Membedah Material Bangunan dalam Tiga Periode Arsitektur Nusantara

Membedah Material Bangunan dalam Tiga Periode Arsitektur Nusantara
Gedung Bank Indonesia Yogyakarta / Foto: Istimewa

JAKARTA - Arsitektur Nusantara adalah arsitektur yang tempatnya di Nusantara, yang langgamnya Nusantara atau budayanya Nusantara. Langgam bangunan adalah gaya arsitektur atau ciri khas bentuk bangunan yang menunjukkan identitas zaman, budaya, atau aliran desain tertentu. Langgam bangunan juga sudah diterapkan di masa 3 periode Arsitektur ini yaitu Nusantara, Klasik, dan Neo-klasik. 

Langgam arsitektur nusantara adalah gaya arsitektur yang mengutamakan aspek local, langgam arsitektur klasik adalah gaya arsitektur Yunani, dan romawi kuno yang diadaptasikan di berbagai negara, sedangkan langgam arsitektur neo-klasik bergaya klasik tetapi lebih sederhana. Langgam bangunan dari 3 periode arsitektur ini pun mempunyai jenis material yang tidak terlalu jauh perbedaannya.

Untuk mengidentifikasi jenis material bangunan pada enam studi kasus dari tiga periode arsitektur (Nusantara, Klasik, dan Neo-klasik), yaitu Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Museum Sonobudoyo, Kantor Pos Besar Semarang, Pasar Johar Semarang, Stasiun Tawang Semarang, dan Gedung Bank Indonesia Yogyakarta, digunakan metode pengumpulan data sekunder (jurnal, berita, dan analisis gambar). 

Hasil kajian menunjukkan perbedaan yang signifikan dalam fungsi dan aktivitas masing-masing bangunan. Karena itu, artikel ini menyajikan analisis keterkaitan antara material bangunan pada tiga gaya arsitektur berbeda dengan perbedaan fungsi yang menyertainya.

A. Bangunan Nusantara

1. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

Arsitektur bangunan Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta memiliki struktur-struktur bangunan yang menarik. Atap masjid bentuknya gak biasa, tersusun dari tiga tingkat yang semakin ke atas, semakin mengecil, Serambi yang cukup luas dan terbuka, Pada satu sisi dinding masjid terdapat tiga pintu berjajar, pada bangunan terdapat tiang-tiang penopang yang saling berhubungan. Jumlah tiang di ruang utama sebanyak 36, tersusun dalam enam kolom, dan enam bari dan untuk masuk ke masjid akan melewati dua gerbang dan satu pintu.

Gambar 1. Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta

2. Museum Sonobudoyo

Arsitektur bangunan Museum Sonobudoyo juga menjadi daya tarik tersendiri. Gedung utamanya dibangun dengan gaya arsitektur Jawa klasik yang sangat kental, lengkap dengan pendopo, pintu, serta ukiran khas yang penuh makna filosofis. Setiap sudut bangunan mencerminkan estetika dan nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Jawa. Dengan suasana yang tenang, museum ini menghadirkan pengalaman kunjungan yang bukan hanya edukatif, tetapi juga spiritual, karena pengunjung dapat merasakan atmosfer budaya Jawa yang begitu kental.

Gambar 2. Museum Sonobudoyo

B. Bangunan Klasik

1. Kantor Pos Semarang 5000

Pada tahun 1979, Kantor Pos Besar Semarang mengalami pemugaran besar dengan penambahan beberapa ruangan di belakang gedung tanpa mengubah bentuk aslinya. Renovasi ini dilakukan tanpa mengurangi nilai historis bangunan, sehingga esensi dan keelokan arsitektur kolonial Belanda tetap terjaga. Melihat secara keseluruhan, Kantor Pos Besar Semarang memiliki kesamaan gaya arsitektur eropa klasik dengan bangunan-bangunan kuno di sekitar Kota Lama. Namun, fasad depannya memperlihatkan sentuhan unik arsitektur Indische Empire.

Gambar 3. Kantor Pos Semarang 5000

2.  Pasar Johar Semarang

Arsitektur Pasar Johar setelah renovasi menunjukkan perpaduan antara gaya modern dan tradisional. Penggunaan material bangunan pun beragam, meliputi beton, baja, dan material tradisional seperti kayu. Sebelum kebakaran besar, arsitektur pasar ini lebih tradisional dengan bangunan-bangunan yang lebih tua dan sederhana. Tata letak pasar ini juga dirancang untuk memfasilitasi kegiatan perdagangan yang efisien. Dibandingkan dengan pasar tradisional lain di Indonesia, Pasar Johar memiliki skala yang lebih besar dan lebih kompleks.

Gambar 4. Pasar Johar Semarang

C. Bangunan Neo-Klasik

1. Stasiun Tawang Semarang

Bangunan stasiun yang bergaya Hindia ini diarsiteki oleh Ir. Louis Cornelis Lambertus Willem Sloth-Blaauboer. Stasiun ini tergolong stasiun sisi; memanjang mengikuti sumbu jalur kereta api. Bentuk massa bangunan adalah perpaduan kubus dan balok, dan atapnya berbentuk limas segiempat pada lobi utama serta prisma segitiga pada kedua sisi sampingnya. Atap pada bangunan lobi dimahkotai kubah sehingga memberi kesan megah, tegas, dan kokoh yang menjadi ciri khas arsitektur Hindia.

Gambar 5. Stasiun Tawang Semarang

2.  Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Arsitektur Gedung Bank Indonesia Yogyakarta sangat menonjol di tengah kota Yogyakarta, khususnya di Titik Nol Kilometer Yogyakarta, dan menjadi salah satu penanda kawasan peninggalan Belanda. Gedung Bank Indonesia Yogyakarta  terdiri dari tiga lantai, yang masing-masing merupakan ruang-ruang dengan fungsi yang berbeda. Ruang di lantai basement berfungsi sebagai ruang penyimpanan uang (khasanah). Pada lantai 1 terdapat ruang kantor yang merupakan fungsi utama dalam gedung bank. Sedangkan di lantai 2 terdapat ruang tinggal pimpinan bank dan keluarganya.

Gambar 6. Gedung Bank Indonesia Yogyakarta

Discussion

Dari diskusi yang telah dilakukan adalah Bangunan Nusantara, klasik, dan neo-klasik memiliki konsep dan design bangunan yang berbeda walaupun dalam beberapa sumber, tahun berdirinya bangunan-bangunan tersebut jarak waktunya lumayan jauh, seperti jarak periode Nusantara dengan klasik berjarak sekitar 70-190 tahun dan klasik dengan neo-klasik berjarak sekitar 17-50 tahun. Tentunya ini ada kaitannya dari aspek Sejarah yang Dimana pada abad ke-20 bangsa eropa datang ke Indonesia untuk menjajah dan menduduki Nusantara.

Kesamaan dari Arsitektur Nusantara,klasik, dan neoklasik juga dilihat dari bahan material yang digunakan. Meskipun gaya bangunan berbeda beda, namun ada persamaan bahan material yaitu yang paling umum digunakan adalah tanah liat dan bata merah sebagai struktur utama. Sementara sebagai penambah ornamen fasad banyak ditemukan bahan material seperti kaca dan kayu. 

Walaupun perancangan dan pembuatan dari bangunan-bangunan ini memiliki jarak waktu yang lumayan Panjang, bangunan-bangunan ini tetap memiliki beberapa aspek yang sama. Kesamaan yang dimaksud dari bangunan Nusantara,klasik,dan neo-klasik ini contohnya yaitu dalam aspek materialnya. 

Kesamaan material yang digunakan pada bangunan Nusantara, klasik, dan neo-klasik adalah kayu, batu bata, beton, kaca, dan tanah liat. Oleh karena itu, walaupun bangunan Nusantara, klasik, dan neo-klasik berbeda periodisasi, bangunan-bangunan tersebut akan memiliki kesamaan dikarenakan wilayah, iklim, alat, dan bahan-bahan yang ada di tempat tersebut.

Dosen: Amanda Rosetia, Ph.D

Tim Penulis Mahasiswa Universitas Internasional Batam: Ricky Taypratama, Itba Roshidin, Muhammad Arifin, Danu aminuddin, Alvarelino, Afdolromdon wongsan, Iqbal Mushoffa

Reference

Ashma Lestari, Muthiah, Mohammad Muqoffa, and Agus Heru Purnomo. 2020. “Upaya Pelestarian Pasar Johar Pasca Kebakaran Di Semarang.” Januari 3(1): 324–35. https://jurnal.ft.uns.ac.id/index.php/senthong/index.

BUMN. “Bangunan Cagar Budaya.” jogjacagar. https://jogjacagar.jogjaprov.go.id/detail/119/gedung-bank-indonesia (October 19, 2025).

Dungga, Elvie Febriani, Yuni Indiarti, Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, and Universitas Negeri. 2023a. “1 , 2 1,2.” 20(1): 1–17.

Dungga, Elvie Febriani, Yuni Indiarti, Program Studi Kedokteran, Fakultas Kedokteran, and Universitas Negeri. 2023b. “1 , 2 1,2.” 20(02): 84–91.

Editorial, Yogya. “Gandeng Bank Indonesia, Jogja Art Fashion Festival (JAFF) 2022 Siap Digelar Awal November.” yogya.co. https://yogya.co/news-yogya/6746/gandeng-bank-indonesia-jogja-art-fashion-festival-jaff-2022-siap-digelar-awal-november/ (October 19, 2025).

Fahmi Prihantoro, Irham Wibowo, Adieyatna Fajri, and Ghifari Yuristiadhi Masyhari Makhasi. 2024. “Contestation of Religious Identity in the Cultural Heritage Sites: A Case Study of the Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta, Indonesia.” Fikri?: Jurnal Kajian Agama, Sosial dan Budaya 9(2): 274–92. doi:10.25217/jf.v9i2.5028.

Felisha, Afifah Aura, and Eko Ribawati. 2025. “Khususnya Di Wilayah Jawa Barat. Upacara Ini Bukan Sekadar.” 9(3).

Ginting, Kezia Perbina, Augustin Rina Herawati, and Ari Subowo. 2021. “38460-87469-1-Sm.”

Indische, Arsitektur. 2015. “Theresia Merlyn Santoso Adalah Mahasiswa S1 Program Studi Arsitektur Universitas Atma Jaya Yogyakarta Sumintarsih,Dkk 2011 Eksistensi Pasar Tradisional, Hal 18.”

Indonesia, Urban. Collective Memory , Marginality , and Spatial Politics In.

Kasus, Studi, Menghitung Zakat Emas, Uang Tunai, Pak Ahmad, Apakah Pak Ahmad, Analisis Penerima, Zakat Seorang, et al. “Soal Tugas Pertemuan 6: Aplikasi Konsep Zakat Dalam Kehidupan 1.”

Lestari, Mia Wahyu, and Uystka Hikmatul Kamiliyah NH. 2025. “The Influence of Product Quality and Museum Facilities on Visitor Satisfaction at the Sonobudoyo Museum Yogyakarta.” TOBA: Journal of Tourism, Hospitality and Destination 4(3): 337–44. doi:10.55123/toba.v4i3.6267.

Masfiah, Umi. 2016. “Arsitektur Dan Peran Masjid Ghede Kauman Yogyakarta Dalam Lintas Sejarah.” INFERENSI: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 6(1): 23–48. doi:10.18326/infsl3.v6i1.23-48.

Masruroh, Evita Luthfi, and Erwin Djuni Winarto. 2022. “Kajian Penerapan Ornamen Jawa Pada Stasiun Kereta Api Indonesia (Studi Kasus Stasiun Tawang Semarang, Stasiun Semarang Poncol, Stasiun Yogyakarta).” Border: Jurnal Arsitektur 4(1): 57–64. https://doi.org/10.33005/border.v4i1.103.

Rukayah, R. Siti, and Sudarmawan Juwono. 2021. “INVENTARISASI ARSITEKTUR BANGUNAN CAGAR BUDAYA KANTOR POS SEMARANG (Memikirkan Kembali Peluang Fungsi Kantor Pos Di Era Digital).” Jurnal Arsitektur ARCADE 5(3): 248. doi:10.31848/arcade.v5i3.836.

Rukmi, Wara Indira, and Johannes Parlindungan Siregar. 2020. “Rethinking the Heritage Value from Different Perspectives, Case Study in Yogyakarta.” Iconarp International J. of Architecture and Planning 8(2): 498–517. doi:10.15320/iconarp.2020.124.

Wardani, Laksmi Kusuma. 2007. “Nilai Budaya Pada Interior Museum Sonobudoyo Yogyakarta.” Dimensi Interior 5: 23–33.

Wibisono, Tony Kunto, Vini Asfarilla, and Nensi Golda Yuli. 2020. “The Concept of Building Revitalization with Office Functions as an Effort to Preserve Indies Buildings Case Study: Bank Indonesia, Main Post Office, and BNI Bank in the Gondomanan Region, Yogyakarta.” Journal of Architectural Research and Design Studies 4(1). doi:10.20885/jars.vol4.iss1.art2.

(06 n.d.; 73-Article Text-228-1-10-20240801 n.d.; Dungga et al. 2023a, 2023b; Fahmi Prihantoro et al. 2024; Kasus et al. n.d.; Lestari and Kamiliyah NH 2025; Masfiah 2016; Rukayah and Juwono 2021; Rukmi and Siregar 2020; Wardani 2007; Wibisono, Asfarilla, and Yuli 2020)(Ginting, Herawati, and Subowo 2021)(Indonesia n.d.)(Ashma Lestari, Muqoffa, and Heru Purnomo 2020)(Felisha and Ribawati 2025)(Indische 2015)(BUMN n.d.)(Editorial n.d.)
 

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index